-->

Tips Trik Seputar Internet dan Bisnis

SEJARAH PERADABAN BANGSA ARAB DAN KEADAAN KONDISI MASYARAKAT ARAB SEBELUM ISLAM DATANG



Sejarah-Peradaban-Bangsa-Arab-dan-Keadaan-Kondisi-Masyarakat-Arab-Sebelum-Islam-Datang
Jazirah Arab yaitu sebuah wilayah dimana ajaran agama Islam dilahirkan. Jazirah ini memiliki bentuk empat persegi panjang yang sisinya tidak sejajar, terletak di sebelah Barat Daya Asia. Di sebelah Selatan berbatasan dengan lautan Hindia, disebelah Timur dengan teluk Arab, di sebelah Barat dengan laut Merah, dan di sebelah Utara dengan Irak dan Syria.

Secara Geografis, jazirah Arab terbagi menjadi dua wilayah, yakni sektor pinggiran dan sektor tengah. Sektor tengah terdiri dari bukit pasir dan gurun serta beberapa pegunungan yang tidak begitu tinggi. Akibatnya penduduk yang hidup disana memutuskan untuk berpindah–pindah dari satu tempat ke tempat yang lain sebab disana sangat jarang sekali turun hujan, selain itu mereka juga mencari tanah yang subur guna menghidupi unta dan ternaknya. Karena itu mereka disebut masyarakat nomaden.

Sektor pinggiran adalah sektor yang bisa dibilang bagian maritim, oleh sebab itu masyarakatnya tidak nomaden sehingga mereka bisa mengembangkan kebudayaannya jauh lebih baik dibandingkan dengan masyarakat Badui yang nomaden, contohnya mereka dapat mendirikan kerajaan dan juga kota. Kerajaannya yang besar diantaranya adalah Hejaz dan Yaman. Di kawasan Hejaz inilah Islam pertama kali dilahirkan.

Hejaz sebagai tempat kelahiran Islam berbeda dengan negara lainnya di Semenanjung Arabia, ia dapat mempertahankan kemerdekaannya, tidak pernah dijajah ataupun dipengaruhi oleh negara lainnya. Jika dipandang secara ekonomi memang negara itu tergolong negara miskin, sehingga negara lain enggan untuk menjajahnya. Faktor yang lain adalah sejak Nabi Ibrahim masih hidup, bangsa Arab sepakat untuk menjaga dan memeliharanya dari ancaman penduduk luar. Keadaan yang demikian ini sangat mendukung terhadap berkembangnya kebudayaan di kawasan Hejaz.

Dilihat dari segi sejarahnya, kerajaan Hejaz merupakan pusat lahirnya agama besar yang disebarkan oleh Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahimlah orang yang membangun Ka’bah di sekitar sumur zamzam pemberian dari Allah SWT. Dengan adanya air zamzam dan Ka’bah itulah kota Mekkah menjadi pusat hubungan dan kebudayaan bangsa Arab, di mana semua bangsa Arab bertemu di tempat itu di samping melakukan ibadah juga mengadakan penilaian seni antara penyair bangsa Arab. Bagi mereka prestasi mengarang syair bukan saja sebagai ekspresi kebebasan berfikir, namun juga merupakan instrumen prestige dan mobilisasi penduduk.

Pada awalnya, Masyarakat Arab adalah penganut agama Islam tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim as yang dilanjutkan oleh putranya Nabi Ismail as sehingga sejarah mencatat sejumlah peninggalan islam dan kebudayaan Islam yang sampai sekarang terpelihara, seperti Ka’bah, maqam Ibrahim, dan peristiwa qurban.

Setelah Nabi Ismail as. wafat, Masyarakat Arab mulai pindah menyembah selain Allah. Proses perpindahan kepercayaan itu berawal dari Amir bin Lubai seorang pembesar suku Khuza'ah yang melakukan perjalanan ke Syam (Syiria). Dia melihat penduduk kota Syam melakukan ibadah dengan menyembah berhala. Dia tertarik untuk mempelajari dan mempraktikannya di Makkah. Dia membawa berhala yang diberi nama Hubal dan diletakkan di Ka’bah. Berhala Hubal menjadi pimpinan berhala lainnya seperti Latta, Uzza dan Manna.

Dia mengajarkan kepada masyarakat Makkah cara menyembah berhala. Sehingga masyarakat menyakini bahwa berhala adalah perantara untuk mendekatkan diri kepada tuhannya. Sejak itulah mereka mulai membuat berhala-berhala sehingga mencapai 360 berhala yang diletakkan mengelilingi Ka’bah. Dan mulailah kepercayaan baru masuk ke masyarakat Makkah dan kota Makkah menjadi pusat penyembahan berhala.

Selain menyembah berhala, masyarakat Arab juga pernah menganut ajaran Zoroasta (penyembah api), penyembah bintang dan langit, khususnya dianut bagian Arab Timur. Penganut agama Yahudi juga ada, namun tidak banyak, karena agama Yahudi adalah khusus untuk Ras Yahuda, dan ras lain menjadi masyarakat kelas kedua bila masuk agama Yahudi.

Masa itu disebut masa Jahiliyyah. Jahiliyyah bukan berarti mereka bodoh dari keilmuannya, namun mereka bodoh dari keimanan kepada Allah SWT seperti yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim as.. Mereka menyimpangkan ajaran-ajaran Nabi Ibrahim as.

Pasca meninggalnya Nabi Isa as, kepemimpinan Dunia mengalami perubahan besar. Hal tersebut mengakibatkan semakin banyaknya manusia yang menyimpang dari falsafah yang sudah dianut. Tidak hanya itu, mereka juga memasukkan ajaran-ajaran baru serta mengubah isi kitab suci yang ada. Dalam kegelapan dan kegersangan ini, Allah SWT kemudian mengutus Muhammad yang merupakan utusan (Rasul) dengan membawa ajaran agama Islam.

Nabi Muhammad lahir dari kalangan kaum Quraisy terkemuka. Beliau menyiarkan ajaran agama Islam pertama kali di Kota Makkah selama kurun waktu sebelas tahun. Setelah di Makkah, beliau kemudian hijrah ke Madinah bersama dengan kaum Muslim lainnya. Sesampainya disana, beliau mendapatkan sambutan hangat dari penduduk Madinah sehingga disamping menjadi agamawan (rasul) beliau juga menjadi tokoh masyarakat yang dapat meletakkan dasar-dasar kemasyarakatan dalam mencapai terbentuknya penduduk yang tamaddun.

Kondisi Sosial Masyarakat Makkah Sebelum Islam

Bangsa Arab memiliki karakter yang positif seperti pemberani, ketahanan fisik, kekuatan daya ingat, hormat akan harga diri dan martabat, penganut kebebasan, loyal terhadap pimpinan, pola hidup sederhana, ramah, ahli syair dan sebagainya. Tapi karakter baik mereka terkikis oleh kejahiliyahan mereka. Mereka melakukan kebiasaan-kebiasaan buruk seperti minum khamr (arak) sampai mabuk, berzina, berjudi, merampok dan sebagainya. Mereka menempatkan kaum perempuan pada kedudukan yang sangat rendah. Perempuan dipandang ibarat binatang piaraan dan tidak memiliki kehormatan dan kekuatan untuk membela diri. Laki-laki memiliki kebebasan untuk menikah dan menceraikan semaunya.

Tradisi yang terburuk di masyarakat Arab adalah mengubur anak-anak perempuan mereka secara hidup-hidup. Mereka merasa terhina dan malu memiliki anak perempuan dan marah bila istrinya melahirkan anak perempuan. Mereka menyakini bahwa anak perempuan akan membawa kemiskinan dan kesengsaraan.

Selain itu, sistem perbudakan berlaku di masyarakat Arab. Para majikan memiliki kebebasan mempelakukan budaknya. Mereka punya kebebasan menyiksa budaknya, bahkan memperlakukan budaknya seperti binatang dan barang dagang yang bisa dijual atau dibunuh. Posisi budak tidak memiliki kebebasan hidup yang layak dan manusiawi.

Kondisi Ekonomi Masyarakat Makkah Sebelum Islam

Bangsa Arab memiliki mata pencaharian bidang perdagangan, pertanian, dan peternakan. Peternakan menjadi sumber kehidupan bagi Arab Badui. Mereka berpindah-pindah menggiring ternaknya ke daerah yang sedang musim hujan atau ke padang rumput. Mereka mengosumsi daging dan susu dari ternaknya. Serta membuat pakaian dan kemanya dari bulu domba. Jika telah terpenuhi kebutuhannya, mereka menjualnya kepada orang lain. Orang kaya dikalangan mereka terlihat dari banyaknya hewan yang dimiliki.

Selain Arab Badui, sebagian masyarakat perkotaan yang menjadikan peternakan sebagai sumber penghidupan. Ada yang menjadi pengembala ternak milik sendiri, ada juga yang mengembala ternak orang lain. Seperti Nabi Muhammad Saw, ketika tinggal di suku Bani Sa’ad, beliau seorang pengembala kambing. Begitu juga Umar bin Khathab, Ibnu Mas’ud dan lain.

Adapun Masyarakat perkotaan yang tinggal di daerah subur, seperti Yaman, Thaif, Madinah, Najd, Khaibar atau yang lainnya, mereka menggantungkan sumber kehidupan pada pertanian. Selain pertanian, mayoritas mereka memilih perniagaan sebagai mata pencaharian, khusunya, penduduk Makkah. Mereka memiliki pusat perniagaan istimewa. Penduduk Makkah memiliki kedudukan tersendiri dalam pandangan orang-orang Arab, yaitu mereka penduduk negeri Haram (Makkah). Orang-orang Arab lain tidak akan mengganggu mereka, juga tidak akan mengganggu perniagaan mereka. Allah Swt. telah menganugrahkan hal itu kepada mereka.

Allah Swt. berfirman dalam Q.S Al-Ankabut [29] : 67:

Artinya : "dan Apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa Sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok. Maka mengapa (sesudah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang bathil dan ingkar kepada nikmat Allah?"

Suku Quraisy merupakan pendudukan Makkah yang memegang peranan dalam perniagaan di jazirah arab. Mereka mendapatkan pengalaman perniagaan dari orang-orang Yaman yang pindah ke Makkah. Orang-orang Yaman terkenal keahlianya di bidang perniagaan. Selain itu, kota Makkah memiliki Ka’bah sebagai tempat orang-orang di jazirah arab melaksanakan haji setiap tahun.

Kebiasaan Orang-orang Quraisy mengadakan perjalanan perdagangannya ke daerah-daerah lain. Allah Swt. mengabadikan perjalanan dagang mereka sebagai perjalanan dagang yang sangat terkenal, yaitu perjalanan musim dingin menuju Yaman, dan sebaliknya perdagangan musim panas menuju Syam.

Allah berfirman:

Artinya: "Karena kebiasaan orang-orang Quraisy. (Yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan." (QS. Quraisy [106] : 1-4)

Orang-orang Arab memiliki pusat-pusat perdagangan yang terkenal seperti Ukazh, Mijannah, dan Jul Mazaj. Fungsi pusat perdagangan bukan hanya sebagai tempat transaksi perdagangan, tetapi juga menjadi pusat pertemuan para sastrawan, penyair, dan orator. Mereka saling menguji kemampuan. Hal ini mengambarkan bahwa konsep pasar tidak sekadar sebagai pusat perdagangan, tetapi juga menjadi pusat peradaban, kekayaan bahasa dan transaksi-transaksi global. Bahasa Arab orang-orang Quraisy pada saat itu menjadi bahasa yang paling mudah diucapkan, paling enak didengar serta paling kaya perbendaharaan kata dan maknanya.

Dalam bidang ekonomi, riba sudah lazim dan dipraktekkan di jazirah arab. Bahkan Makkah sebagai pusat sudah terpengaruh sistem riba. Hal ini bisa terjadi karena terpengaruh dengan sistem perdagangan yang dilakukan oleh bangsa lain. Adapun alat transportasi utama saat itu adalah Unta, yang dianggap sebagai perahu padang pasir. Unta merupakan kendaraan yang menakjubkan. Unta memiliki kekuatan yang tangguh, mampu menahan haus dan mampu menempuh perjalanan yang sangat jauh. Unta-onta ini pergi membawa barang dagangan dari satu negeri ke negeri lainnya untuk diperjualbelikan.

Kondisi Politik Masyarakat Arab Sebelum Islam

Pada masyarakat Arab pra-Islam dapat dibagi menjadi bua bagian berdasarkan atas batas territorial:
Penduduk kota (al-hadharah ) yang tinggal di kota perniagaan jazirah arabia, seperti Makkah dan Madinah. Kota Makkah merupakan kota penghubung perniagaan Utara dan Selatan. Para pedagang dengan kabilah-kabilah yang berani membeli barang dagangan dari India dan Cina di Yaman dan menjualnya ke Syiria di Utara.

Penduduk pedalaman yang mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Cara mereka hidup adalah nomaden, berpindah dari suatu daerah ke daerah lain, mereka tidak mempunyai perkampungan yang tetap dan mata pencaharian yang tepat bagi mereka adalah memelihara ternak, domba dan unta.
Sebelum datangnya Islam, ada tiga kekuatan politik besar yang mempengaruhi politik arab: yaitu kekaisaran Nasrani Byzantium, kekaisaran Persia memeluk agama Zoroaster, serta Dinasti Himyar yang berkuasa di Arab bagian selatan.

Kekaisaran Byzantium dan Romawi Timur dengan ibukota Konstantinopel merupakan bekas Imperium Romawi masa klasik. Pada permulaan abad ke-7, wilayah imperium ini telah meliputi Asia kecil, Siria, Mesir dan sebagian daerah Italia, serta sejumlah kecil wilayah di pesisir Afrika Utara juga berada di bawah kekuasaannya. Sedangkan kekaisaran Persia berada di bawah kekuasaan dinasti Sasanid (Sasaniyah). Ibu kota Persia adalah al-Madana’in, terletak sekitar dua puluh mil di sebelah tenggara kota Baghdad yang sekarang. Wilayah kekuasaannya terbentang dari Irak dan Mesopotamia hingga pedalaman timur Iran serta Afganistan.

Kondisi poliitik jazirah arab terpengaruh dua hal, yaitu pertama, interakaksi dunia arab dan kekaisaran Byzantium dan Persia. Kedua, persaingan antara agama Yahudi, Nasrani dan Zoroaster.
Bangsa Arab terdiri beberapa suku. Mereka memiliki rasa cinta berlebihan terhadap sukunya. Tidak jarang, peperangan terjadi antar suku. Seperti perang Fujjar, perang saudara yang terkenal karena terjadi beberapa kali. Pertama perang terjadi antara Suku Kananah dan Hawazan, kemudian Quraisy dan Hawazan serta Kinanah dan Hawazan lagi. Peperangan Fujjar terjadi 15 tahun sebelum Rasulullah diutus.

Adat Istiadat Bangsa Arab Sebelum Islam Datang

Sejarah perkembangan penduduk Arab tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan Islam. Bangsa Arab adalah suatu bangsa yang diasuh dan dibesarkan oleh Islam. Sebaliknya Islam juga merupakan agama samawi, perkembangannya dipengaruhi peradaban bangsa Arab. Lingkungan alam dimana suatu bangsa hidup serta berkembang memiliki pengaruh yang besar dalam pembentukan tingkah laku masyarakat, ekonomi, sosial, adat istiadat, serta budaya pada bangsa tersebut. Dalam kaitan dengan pengaruh lingkungan bangsa Arab terhadap corak perkembangan Islam, para sejarawan merumuskan sejumlah karakteristik tingkah laku penduduk Arab yang mungkin mempengaruhi pertumbuhan Islam, antara lain:

Masyarakat Arab sangat cinta dan setia pada tradisi dan adat kabilahnya masing–masing yang tercermin dalam kegemarannya menjamu tamu–tamunya atas nama kabilah. Meski demikian, seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Khaldun bahwa pada masa jahiliyah penduduk Arab adalah penduduk yang amat sangat tidak beradab. Senang melakukan perampokan (menyamun) dan perusuhan, tidak mempunyai skill dan ilmu, namun pembawaan mereka sebenarnya murni, pemberani dan rela berkorban untuk hal–hal yang dipandangnya baik.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa penduduk Arab pada saat itu mempunyai dua sifat sekaligus yaitu sifat positif dan negatif. Sifat positif itulah yang akan menjadi penunjang perkembangan Islam dan pendorong perkembangan penduduk Arab. Sedangkan sifat negatif justru akan merusak persatuan mereka.

Kehidupan yang sangat tidak wajar dan keras di gurun pasir menyebabkan orang Arab memiliki tradisi buruk yaitu antara lain: 

Suka merampok, mencuri, berjudi, dan menghalalkan segala cara untuk mewujudkan keinginan.
Memandang rendah derajat manusia, dan membunuh bayi-bayi perempuan yang baru lahir.
Suka minum khomer yang memabukkan.
Wanita seenaknya diperjual-belikan untuk menjadi pelampiasan nafsu laki-laki.
Menyembah berhala, yang diletakkan disetiap rumah dan sudut kota. Berhala yang diagungkan oleh mereka adalah Latta Uzza dan lain-lain.
Membunuh anak perempuan sejak nenek moyang sebab takut akan mendatangkan aib bagi keluarga dan takut kelaparan.
Sangat menyukai peperangan. Peperangan antar kabilah dapat terjadi hanya lantaran perkara kecil. Contohnya seseorang dari satu kabilah menghina anggota kabilah yang lain, perbedaan pendapat berkenaan dengan hak-hak perorangan yang segera melibatkan kabilah masing masing.

Masa Pemerintahan Bangsa Arab Sebelum Islam Datang

Masyarakat Arab sebelum Islam datang belum mengenal sistem pemerintahan. Masing-masing kabilah memiliki pemerintahan sendiri yang dikepalai seorang syeikh yang bertugas sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam lingkungan kabilahnya. Disamping itu masing-masing kabilah juga memiliki seorang hakim yang bertugas untuk mengadili dan menetapkan keputusan mengenai berbagi perselisihan dan pertikaian yang terjadi di kalangan kabilah. Kabilah yang paling disegani saat itu adalah kabilah Quraisy dan mempunyai tugas sebagai berikut:

1. Al-Qiadah 
Al-Qiadah adalah majelis yang mengurusi angkatan perang negeri Mekkah, yang mempunyai angkatan bersenjata terdiri dari pasukan perang dan penjaga keamanan, dan tugas yang lainnya.

2. Diyat 
 Diyat adalah suatu majelis yang mengurusi masalah pengadilan, baik pidana maupun perdata.

3. Al-Hijabah 
Al-Hijabah yakni yang bertugas mengurusi Ka'bah, sepeti menjaga, membuka, menutup, serta mencaga keamanan dan ketertiban Ka'bah.

4. Darun Dakwah 
Darun Dakwah adalah suatu majelis permusyawarahan rakyat yang bertugas mengurusi masalah perundang-undangan dibidang politik, sosial dan budaya.

Agama Bangsa Arab Sebelum Islam Datang

Sebelum negeri Arab di datangi Islam, bangsa Arab sudah mempercayai akan ke-Esaan Allah sebagai Tuhan. Kepercayaan ini pada mulanya diwariskan oleh Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail. Agama tersebut dalam Al-Qur’an disebut agama Hanif, yakni kepercayaan yang menyakini ke-Esaan Allah SWT sebagai pencipta langit dan bumi beserta isinya.

Berkaitan dengan ini, dalam Al–Qur’an surat An-Najm ayat 20-21 dan Az-Zuhruf ayat 87 menyebutkan bahwa sebenarnya mereka masih mempercayai ke-Esaan Allah SWT sebagai pencipta, pengatur dan pemelihara alam semesta. Jika ditanyakan kepada orang Arab, mengapa menyembah patung dan berhala, mereka menjawab bahwa semua itu dilakukan demi mendekatkan diri kepada Allah SWT sang pencipta.

Akan tetapi waktu saat itu bangsa Arab mencampurnya dengan agama-agama lain, seperti kepercayaan menyembah matahari, pohon, roh, dan jin. Menurut pandangannya hal tersebut memiliki kekuatan yang dapat menjadikan makmur dan hidup tenang. Agama yang menyimpang tersebut dinamakan agama Watsaniyah. Meski demikian, ada juga masyarakat Arab yang tidak mudah terpengaruh oleh agama Watsaniyah. Mereka merupakan orang-orang yang memeluk agama Nashrani dan Yahudi. Pada dasarnya orang Arab tidak meninggalkan agama Hanif sepenuhnya, hanya saja mereka mencampurnya dengan agama Watsaniyah tersebut. Misalnya, pada masa jahiliyah orang Arab masih memuliakan Ka’bah, akan tetapi mereka mencampurnya dengan mengelilingi Ka’bah tanpa mengenakan busana serta masih banyak lagi pujaan yang lain.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sebelum datangnya Nabiyullah Muhammad SAW, bangsa Arab telah menganut agama monotoisme. Agama tersebut diwarisi secara turun-temurun sejak Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Agama ini dalam Al-Qur’an disebut Hanif. Kepercayaan akan ke-Esaan Allah SWT konsisten diyakini oleh bangsa Arab hingga kerasulan Muhammad SAW, hanya saja telah dicampur baurkan dengan tahayul dan kemusyrikan.

Demikian Sejarah Peradaban Bangsa Arab dan Keadaan Kondisi Masyarakat Arab Sebelum Islam Datang, semoga sejarah ini menjadikan lebih mengutakan keimanan kepada Allah SWT.

Baca Juga Artikel Menarik Lainnya



Related : SEJARAH PERADABAN BANGSA ARAB DAN KEADAAN KONDISI MASYARAKAT ARAB SEBELUM ISLAM DATANG

clear'/>