-->

Tips Trik Seputar Internet dan Bisnis

KISAH TELADAN RIWAYAT BIOGRAFI SAHABAT NABI MUADZ BIN JABAL RA



Kisah-Teladan-Riwayat-Biografi-Sahabat-Nabi-Muadz-bin-Jabal-ra
Mu'adz bin Jabal adalah Sahabat nabi yang yang pertama kali masuk Islam (as-Sabiqun al-Awwalun). Mu'adz terkenal sebagai cendekiawan dengan wawasannya yang luas dan pemahaman yang mendalam dalam ilmu fiqh, dan bahkan Rasulullah menyebutnya sebagai sahabat yang paling mengerti yang mana yang halal dan yang haram. Mu'adz juga merupakan duta besar Islam yang pertama kali yang dikirim Rasulullah.

Mu'adz bin Jabal dilahirkan 20 tahun sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Ia adalah seorang pemuda yang rupawan lemah lembut perangainya berakhlak mulia, dan pribadinya selalu dihiasi dengan sifat rendah hati. Sejak masuk Islam, Mu'adz bin Jabal selalu menemani Rasulullah pergi kemana saja beliau pergi. Ia tumbuh dan besar dibawah bimbingan Rasulullah, hingga akhirnya ia menjadi seorang pakar hadits dan memiliki akal yang cerdas.

Nama panjangnya adalah Muadz bin Jabal bin Amr bin Aus al-Khazraji, sedangkan nama julukannya adalah “Abu Abdurahman”. Ia dilahirkan di Madinah dan memeluk Islam pada usia 18 tahun. Fisiknya gagah, berkulit putih, berbadan tinggi, berambut pendek dan ikal, dan bergigi putih mengkilat. Muadz termasuk dalam rombongan berjumlah sekitar 72 orang Madinah yang datang berbai’at kepada Rasulullah. Setelah itu ia kembali ke Madinah sebagai seorang pendakwah Islam di dalam masyarakat Madinah. Ia berhasil mengislamkan beberapa orang sahabat terkemuka misalnya Amru bin al-Jamuh. Rasulullah mempersaudarakannya dengan Ja’far bin Abi Thalib.

Rasulullah mengirimnya ke negeri Yaman untuk mengajar. Rasulullah mengantarnya dengan berjalan kaki sedangkan Mu’adz berkendaraan, dan Nabi bersabda kepadanya: ” Sungguh, aku mencintaimu“. Mu’adz bin Jabal wafat tahun 18 H ketika terjadi wabah hebat di Urdun tempat ia mengajar sebagai utusan khalifah Umar bin Khattab, waktu itu usianya 33 tahun. "Orang yang paling mengetahui halal dan haram di kalangan umatku adalah Muaz ibn Jabal"

Kisah Muadz bin Jabal dalam Menerima Islam

Melalui tangan seorang da’i muda dari Yatsrib (Mushab bin Umair) Muadz bin Jabal masuk Islam, tepatnya pada malam Aqobah. Muadz bin Jabal berbaiat di atas tangan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam diusianya yang masih belia. Muadz bin Jabal adalah salah satu dari 72 orang Yatsrib yang berangkat ke Makkah untuk berjumpa dengan sang baginda, Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam. Nah, terjadilah Baiat yang ke 2.

Dengan gagah berani dan keluhuran cita-cita Muadz bin Jabal, sekembalinya dari Makkah ke Madinah, ia langsung membentuk sekelompok dengan pemuda yang lainnya untuk berdakwah dengan cara menghancurkan berhala-berhala secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.

Kisah Muadz bin Jabal bersama Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam

Ketika di Madinah, Muadz bin Jabal belajar Syariat dan Al-Quran dengan Rasullullah Shalallahu alaihi wassalam sehingga dia bisa berada dibarisan depan para sahabat Qurra', karena dia sangat mengerti dan mahir dalam bidang syariat Allah. Yazid bin Quthaib berkata, "Aku datang ke masjid Hims, aku melihat seorang anak muda berambut ikal, orang-orang berkumpul kepadanya. Jika dia berbicara seolah-olah cahaya dan mutiara keluar dari mulutnya. Aku bertanya," Siapa dia?" orang-orang menjawab," Muadz bin Jabal."

Abu Muslim Al-Khaulani berkata,

"Aku datang ke masjid Damaskus, aku melihat sebuah halaqoh yang berisi para sesepuh dari para sahabat Rasul, namun diantara mereka ada seorang pemuda dengan mata kecoklatan dan senyumannya yang menawan, setiap kali mereka berselisih dalam suatu masalah mereka selalu mengembalikan kepadanya, maka aku bertanya kepada seseorang didekatku, Siapa anak muda itu? Dia menjawab, "Muadz bin Jabal."

Subhanallah diusianya yang masih sangat muda, sudah banyak orang yang mengagumi Muadz.

Hal itu tidaklah aneh, karena sahabat Muadz adalah murid terbaik Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam, dia menimba ilmu dari sumber yang mengalir deras. Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda,

"Orang yang paling mengetahui halal dan haram adalah Muadz bin Jabal."

Muadz bin Jabal juga salah satu sahabat yang mengumpulkan Al-Quran di Zaman Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam, sehingga jika para sahabat berbicara mengenai Al-Quran dan di situ ada Muadz. Lalu mereka merasa segan terhadapnya karena tingginya ilmu Muadz bin Jabal.

Setelah Fathu Makkah, orang-orang Quraisy berbondong-bondong masuk Islam dan mereka membutuhkan seorang pendidik di Makkah, maka Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam menyerahkan pendidikan di Makkah kepada Attab bin Usaid dan Muadz bin Jabal sebagai pendidik al Quran dan memahamkan mereka tentang syariat islam.

Begitu juga saat Raja-raja Yaman masuk islam, mereka meminta beliau untuk mengirimkan seseorang yang bisa mengajari mereka syariat Allah.Kemudian beliau mengirim sekelompok untuk menjadi pendidik di Yaman yang dipimpin oleh Muadz bin Jabal.

Kata Terakhir Nabi Shalallahu alaihi wassalam Kepada Muadz

Pada saat Muadz bin Jabal di utus, Nabi Shalallahu alaihi wassalam mengantar Muadz dan wasiat Nabi kepadanya.

Inilah pertemuan Muadz bin Jabal yang terakhir dengan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam, saat itu Nabi mengantar Muadz bin Jabal yang akan berangkat ke Yaman, posisi beliau dibawah kendaraan sedangkan Muadz diatas kendaraannya, lalu beliau berwasiat kepada Muadz, "Wahai Muadz, mungkin kau tidak akan bertemu denganku lagi setelah tahun ini, mungkin kau akan melewati masjid dan kuburku."

Maka Muadz menangis sedih, sedih berpisah dengan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam kekasihnya dan juga Nabinya,kaum Muslimin yang mendengarkan wasiat itu juga ikut menangis.
Sejak kematian Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam, mata Muadz bin Jabal terlihat tidak pernah bahagia, saat dia kembali dari Yaman, dia sudah tidak bisa bertemu dengan Nabi lagi, karna sebelum Muadz kembali dari Yaman, Nabi sudah wafat. Saat kembali ke Madinah Muadz bin Jabal langsung menangis. Singkat cerita ketika kepemimpinan Umar bin Khatthab, Muadz dikirim ke Bani Kilab untuk membagikan jatah pemberian mereka dan membagikan zakat kepada fakir miskin, kemudian Muadz melaksanakan tugas yang telah dibebankan kepadanya.

Istrinya bertanya, "Mana yang kau bawa dari jatah yang biasa dibawa oleh para petugas negara untuk keluarga mereka?" Muadz menjawab, "Aku mempunyai seorang pengawas yang selalu hadir dan menulis perbuatanku."

Istrinya berkata, "Di zaman Rasulullah Engkau adalah orang yang terpercaya, begitu juga saat kekhilafahan Abu Bakar, namun disaat kekhilafahan Umar bin Khattab dia mengirimkan pengawas atasmu untuk mengawasimu?" Lalu istri Muadz pergi dan menemui istri Umar, dia menceritakan hal tersebut kepada istri Umar, Maka istri Umar pulang dan menceritakan nya kepada Umar. Esok harinya Umar bertemu dengan Muadz, dan bertanya, "Wahai Muadz apa benar aku telah mengutus pengawas untuk mengawasimu?"

Muadz menjawab, "Tidak wahai Amirul Mukminin, hanya saja aku tidak punya alasan lain yang membuat istriku bisa menerima." Umar tertawa mendengar hal itu dan berkata, "Buatlah dia rela dengan ini."

Kisah Muadz bin Jabal Diutus ke Syam

Gubernur Syam mengirim surat kepada Umar bin Khattab yang isinya bahwa negeri Syam sudah sangat banyak penduduknya sampai ke pelosok maka dia meminta Umar untuk mengirim beberapa orang untuk mengajari panduduk Syam belajar Al Quran. Lalu Umar bin Khattab memanggil 5 orang sahabat, mereka adalah Muadz bin Jabal, Abu Darda, Abu Ayyub, Ubadah bin Shamit dan Ubay bin Kaab. Mereka adalah sahabat Nabi yang mengumpulkan Al-Qur’an di zaman Nabi Shalallahu alaihi wassalam.

Umar berkata:
"Sesungguhnya saudara-saudara kalian dari Syam membutuhkan beberapa orang yang bisa mendidik mereka dan memahamkan agama kepada mereka. Maka tolonglah aku, semoga Allah merahmati kalian, jika kalian berkenan maka undilah 3 orang diantara kalian, jika tidak maka aku yang akan menunjuk 3 orang diantara kalian."

Mereka berkata, "Untuk apa diundi? Abu Ayyub sudah sangat tua dan Ubay sedang sakit, maka tinggal kami bertiga." Umar berkata,"Baiklah, mulailah dari Hims jika kalian sudah menerima penduduknya, maka tinggalkanlah salah seorang dari kalian, lalu lanjutkan ke Damaskus kemudian ke Palestina." Mereka mulai berangkat dan mereka tinggal di Hims seperti yang diperintahkan Umar. Ubadah lah yang akhirnya tinggal di Hims, Abu Darda’ di Damaskus dan Muadz bin Jabal di Palestina.

Diantara keistimewaan beliau:

Yang paling pandai tentang halal dan haram

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«أَرْحَمُ أُمَّتِي بِأُمَّتِي أَبُو بَكْرٍ، وَأَشَدُّهُمْ فِي أَمْرِ اللَّهِ عُمَرُ، وَأَصْدَقُهُمْ حَيَاءً عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ، وَأَعْلَمُهُمْ بِالحَلَالِ وَالحَرَامِ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ، وَأَفْرَضُهُمْ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ، وَأَقْرَؤُهُمْ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَمِينٌ وَأَمِينُ هَذِهِ الأُمَّةِ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الجَرَّاحِ» [سنن الترمذي: صححه الألباني]

"Diantara ummatku yang paling belas kasih terhadap ummatku (yang lain) adalah Abu Bakr, sedangkan yang paling tegas terhadap perintah Allah adalah Umar, yang paling pemalu adalah Utsman, yang paling mengetahui halal haram adalah Mu'adz bin Jabal, dan yang paling mengetahui tentang fara'idh (ilmu tentang pembagian harta waris) adalah Zaid bin Tsabit, serta yang paling bagus bacaannya adalah Ubay bin Ka'ab, dan setiap ummat memiliki orang kepercayaan, sedangkan orang kepercayaan ummat ini adalah Abu 'Ubaidah bin Jarrah." [Sunan Tirmidziy: Sahih]

Menghafal Al-Qur’an di masa Rasulullah

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:

" جَمَعَ القُرْآنَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعَةٌ، كُلُّهُمْ مِنَ الأَنْصَارِ: أُبَيٌّ، وَمُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ، وَأَبُو زَيْدٍ، وَزَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ " [صحيح البخاري ومسلم]

“Empat orang yang menghafal Al-Qur’an di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, semuanya dari kaum Anshar: Ubay, Mu’adz bin Jabal, Abu Zayd, dan Zayd bin Tsabit”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Rasulullah memerintahkan untuk mempelajari Al-Qur’an darinya

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«اسْتَقْرِئُوا القُرْآنَ مِنْ أَرْبَعَةٍ، مِنْ ابْنِ مَسْعُودٍ، وَسَالِمٍ، مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ، وَأُبَيٍّ، وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ» [صحيح البخاري ومسلم]

"Ambillah bacaan Al Qur'an dari empat orang. Yaitu dari 'Abdullah bin Mas'ud, Salim, maula Abu Hudzaifah, Ubay bin Ka'ab, dan Mu'adz bin Jabal". [Sahih Bukhari dan Muslim]

Rasulullah mencintainya

Dari Mu'adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menggandeng tangannya dan berkata:

«يَا مُعَاذُ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ»

"Wahai Mu'adz, demi Allah, aku mencintaimu."
Kemudian beliau berkata:

" أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ " [سنن أبي داود: صحيح]

"Aku wasiatkan kepadamu wahai Mu'adz, janganlah engkau tinggalkan setiap selesai shalat untuk mengucapkan: Ya Allah, bantulah aku untuk berdzikir dan bersyukur kepada-Mu serta beribadah kepada-Mu dengan baik”. [Sunan Abu Dawud: Sahih]

Dari Syuraih Bin 'Ubaid dan Rasyid Bin Sa'd dan yang lainnya, mereka berkata: Ketika Umar radhiallahu 'anhu sampai di Saragh, dia mendapat berita bahwa di Syam telah terjadi wabah yang parah, maka dia berkata: "Telah sampai berita kepadaku bahwa telah terjadi wabah yang parah di Syam, maka aku katakana: Jika ajal menjemputku sedang Abu Ubaidah Bin Jarrah masih hidup, niscaya aku akan mengangkatnya menjadi penggantiku, dan jika aku ditanya oleh Allah: “Kenapa kamu mengangkatnya sebagai penggantimu untuk ummat Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam?” Aku akan menjawab: Sesungguhnya aku mendengar Rasul-Mu shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

" إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ أَمِينًا، وَأَمِينِي أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ "

"Sesungguhnya pada setiap Nabi itu ada seorang amin (orang yang dipercaya) sedangkan aminku adalah Abu 'Ubaidah Bin Jarrah."

Maka orang-orang mengingkarinya dan mengatakan: Ada apa dengan petinggi Quraisy? Yang mereka maksud adalah Bani Fihri. Kemudian Umar berkata: Jika ajal menjemputku sedangkan Abu 'Ubaidah telah wafat, maka aku akan mengangkat Mu'adz Bin Jabal, dan jika aku ditanya oleh Allah: “Kenapa kamu mengangkatnya?” Aku akan menjawab: Aku mendengar Rasul-Mu shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

" إِنَّهُ يُحْشَرُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بَيْنَ يَدَيِ الْعُلَمَاءِ نَبْذَةً "

"Sesungguhnya dia akan dikumpulkan pada hari Kiamat bersama para ulama dalam keadaan sendirian." [Musnad Ahmad: Hasan]

Dalam riwayat lain; Rasulullah bersabda:

«معاذ بن جبل أمام العلماء يوم القيامة برتوة» [صحيح الجامع الصغير وزيادته]
“Mu’adz bin Jabal berada di depan para ulama pada hari kiamat sejauh satu derajat”. [Sahih Al-Jaami’]

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

«إِنَّ مُعَاذًا كَانَ أُمَّةً قَانِتًا للَّهِ حَنِيفًا»

“Sesungguhnya Mu’adz adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif”.

Seorang berkata: Abu Abdirrahman (Ibnu Mas’ud) keliru, sesungguhnya Allah ta’aalaa berfirman:

{إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا للَّهِ} [النحل: 120]

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah. [An-Nahl:120]

Maka Ibnu Mas’ud berkata: Tahukah engkau apa yang dimaksud “Al-Ummah” dan “Al-Qaanit”?

Ia menjawab: Allah lebih Mengetahui!

Ibnu Mas’ud berkata: Al-Ummah adalah orang yang mengajarkan kebaikan, dan Al-Qaanit adalahh orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Seperti itulah Mu’adz bin Jabal, mengajarkan kebaikan dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. [Tafsiir Ath-Thabariy: Sahih]

Sebaik-baik orang dari kaum laki-laki adalah Mu'adz bin Jabal

Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

«نِعْمَ الرَّجُلُ أَبُو بَكْرٍ، نِعْمَ الرَّجُلُ عُمَرُ، نِعْمَ الرَّجُلُ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الجَرَّاحِ، نِعْمَ الرَّجُلُ أُسَيْدُ بْنُ حُضَيْرٍ، نِعْمَ الرَّجُلُ ثَابِتُ بْنُ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ، نِعْمَ الرَّجُلُ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ، نِعْمَ الرَّجُلُ مُعَاذُ بْنُ عَمْرِو بْنِ الجَمُوحِ» [سنن الترمذي: صححه الألباني]

"Sebaik-baik orang (dari kaum laki-laki) adalah Abu Bakar, sebaik-baik orang (dari kaum laki-laki) adalah Umar, sebaik-baik orang (dari kaum laki-laki) adalah Abu 'Ubadah bin Jarrah, sebaik-baik orang (dari kaum laki-laki) adalah Usaid bin Hudlair, sebaik-baik orang (dari kaum laki-laki) adalah Tsabit bin Qais bin Syammas, sebaik-baik orang (dari kaum laki-laki) adalah Mu'adz bin Jabal, Sebaik-baik orang (dari kaum laki-laki) adalah Mu'adz bin 'Amru bin Al Jamuh." [Sunan Tirmidziy: Sahih]

Wafat Muadz bin Jabal dan Kata Terakhir Penuh Ibrah

Ketika di Palestina, Muadz bin Jabal terjangkit penyakit, ajal sudah mendekatinya dan keadaan dia saat itu sedang menghadap kiblat sambil berkata, "Selamat datang kematian, selamat datang kematian, pengujung yang hadir setelah ketidakhadirannya, kekasih yang datang dengan kerinduan."

Lalu dia menghadap ke langit dan berkata:

"Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu bahwa aku tidak mencintai dunia dan lamanya kehidupan untuk menanam pohon dan mengalirkan sungai, akan tetapi untuk menghadapi kehausan terik matahari, memanfaatkan kesempatan dan bergaul dengan para Ulama’ di halaqah-halaqah dzikir. Ya Allah terimalah jiwaku dengan kebaikan seperti Engkau menerima jiwa yang beriman."

Demikian Kisah Teladan Riwayat Biografi Sahabat Nabi Mu'adz bin Jabal ra , Semoga bermanfaat jangan lupa berkomentar dan berkunjung kembali ke website www.tipstriksib.net

Baca juga Kisah Teladan Lainnya



Related : KISAH TELADAN RIWAYAT BIOGRAFI SAHABAT NABI MUADZ BIN JABAL RA

clear'/>