-->

Tips Trik Seputar Internet dan Bisnis

Kisah Abu Lahab Dan Istrinya Yang Ditakdirkan Masuk Jadi Penghuni Neraka



Kisah-Abu-Lahab-Dan-Istrinya-Yang-ditakdirkan-Masuk-jadi-Penghuni-Neraka
Abu Lahab bin Abdul Muththalib adalah paman Nabi Muhammad SAW sekaligus adik dari Abdullah Ayah dari Rasulullah saw. yang menyatakan secara terus terang kebenciannya akan ajaran Islam. Meski demikian ia tidak berani untuk membunuh Nabi Muhammad SAW , keponakannya sendiri. Namun kebenciannya akan Nabi Muhammad SAW dan Islam ajarannya diperlihatkan secara terang terangan. Bukan hanya ia, istrinya Ummu Jamil, juga ikut membenci Muhammad.

Ummu Jamil dan saudara laki lakinya, Abu Sufyan bin Harb, juga sama sama membenci Islam. Dan mereka semua berada dalam satu kelompok yakni kelompok kaum Quraisy yang menentang Islam.

Nama asli Abu Lahab adalah Abdul Uzza bin Abdul Muttalib. Orang hanya tahu bahwa kunyahnya Abu Lahab yang artinya bapak dari api yang berkobar, karena pipinya selalu merah atau seperti terbakar.

Ayahnya adalah Abdul Muththalib. Abdul Muththalib memiliki beberapa istri.

Dan ibunya Abu Lahab adalah Lubna binti Hajir bin Abdu Manaf bin Dhathir bin Hubsyiyyah bin Salul bin Ka’ab bin Amr Al-Khuza’i.

Istrinya adalah Ummu Jamil.

Abu Lahab adalah orang yang cikup terpandang di kalangan kaum Quraisy. Kekayaan yang dimilikinya sudah membuat dia menjadi orang yangh sangat disegani di kota Mekkah.Tidak heran kalau dia menjadi cukup berkuasa dan dihormati oleh seluruh kaum Quraisy lainnya. Sesungguhnya Abu Lahab adalah orang yang paling gembira dengan kelahiran Rasulullah. Ketika berita tentang adik iparnya Aminah melahirkan bayi yang sehat dan indah, Abu Lahab serta merta menyebarkan berita gembira itu. Sebagai wujud rasa gembiranya, ia memerdekakan budaknya Thuwaibah al Aslamiyyah, wanita dari bani Aslam. Abdul Uzza lalu menyuruh Thuwaibah untuk menyusui Nabi, sementara Aminah mendapat ibu susu dari suku Badui. Dengan penuh rasa syukur atas kemerdekaan dirinya, Thuwaibah menyusui Nabi dengan kasih sayang yang melimpah. Dengan begitu, Thuwaibah menjadi ibu susu kedua bagi Rasulullah . Kelak, Thuwaibah kerap disebut ibu oleh Rasulullah dan seluruh anak anak Thuwaibah menjadi saudara sesusu Rasulullah.

Tak hanya itu Abu Lahab, juga menyembelih beberapa ekor unta sebagai tanda kegembiraannya. Tindakan Abu Lahab ini, bisa disebut sebagai aqiqah yang pertama dalam sejarah Islam. Bahkan, dua anak Abu Lahab dijodohkan dengan anak anak Muhammad [ sebelum Muhammad menerima wahyu ] . Yakni Utbah bin Abu Lahab menikah dengan Ruqayyah dan Utaibah bin Abu Lahab menikah dengan Ummu Kultsum. Namun ketika Muhammad menerima wahyu, sirnalah seluruh rasa cinta dan kegembiraan Abu Lahab terhadap keponakannya itu. Abu Lahab tidak bisa menerima kebenaran yang dibawa Muhammad. Gagasan tentang Islam yang menggantikan agama jahiliyah mereka sama sekali tidak menyenangkan hati Abu Lahab. Apalagi kemudian sang keponakan memproklamirkan diri menjadi Utusan Allah, Nabi dan Rasul pemimpin umat manusia.

Tidak hanya Abu Lahab, istirnya Ummu Jamil juga menampilkan kedengkian dan kebencian terhadap Muhammad. Itulah sebabnya, para menantu, anak anak Muhammad, tidak lagi mereka sayangi. Padahal mereka belum lama melangsungkan pernikahan. Usia pernikahan mereka masih muda, masih sekitar 3 tahun. Setelah turunnya surat Al Lahab pada tahun ke 3 Bi’tsah, Mereka memerintahkan Utbah dan Utaibah untuk menceraikan Ruqayyah dan Ummu Kultsum.

“Kepalaku dan kepala kalian haram bersentuhan jika kalian berdua tidak mentalak kedua putri Muhammad” Ketika mendengar Nabi Muhammad menyiarkan agama islam dia sangat murka. Dia merasa malu keponakannya melaknat pemujaan berhala yang sanhat dia sembah-sembah selama ini. Muhammad sudah dianggap mencoreng mukanya dan mempermalukannya di kalangan kaum Quraisy.

Pada suatu ketika Nabi Muhammad saw menaiki bukit Safa dan memanggil seluruh pemuka kaum Quraisy untuk berkumpul. Dengan penasaran akhirnya berkumpulah semua pemuka kaum Quraisy di Bukit Safa, termasuk Abu Lahab. Mereka pun bertanya-tanya kira-kira apa yang akan disampaikan Muhammad kepada mereka? " Wahai para pemuka kaum Quraisy sesungguhnya aku telah diutus oleh Allah swt untuk mengingatkan kalian terhadap jalan yang benar. Apabila kalian menentang maka kalian akan mendapatkan siksaan yang amat berat dari Allah swt."kata Nabi Muhammad dengan sangat tenang dan berwibawa. Beliau tidak takut sedikitpun meskipun harus berhadapan dengan para pemuka kaum Quraisy yang sangat berkuasa di kota Mekkah.

" Celakalah engkau Muhammad !"teriak Abu Lahab dengan berang. "Untuk itu engkau mengumpulkan kami di sini," teriaknya lagi dengan muka yang merah karena marah. "Selama ini kami menganggap engkau adalah orang yang tidak pernah berbohong. Mengapa engkau mengatakan kebohongan seperti itu kepada kami?"teriak yang lainnya. Cemoohan dan hujatan pun dilancarkan pada Nabi Muhammad saw. Mereka menganggap Muhammad tidak lebih baik dari mereka yang kaya raya. Apabila dibandingkan , Muhammad tidak memiliki apa-apa sementara mereka memiliki harta kekayaan yang berlimpah.

Ucapan Muhammad bahwa beliau adalah orang yang diutus Tuhan untuk menyelamatkan mereka ditertawakan habis-habisan. Mereka menganggap tak ada gunanya mendengar ocehan Muhammad. Nabi Muhammad saw menghadapi semua perlakuan pemuka kaum Quraisy dengan sabar dan ikhlas. Beliau tetap menyebarkan ajaran agama tauhid secara terang-terangan dan tidak sembunyi-sembunyi lagi sehingga membuat kaum Quraisy semakin membencinya.

Mereka semakin menghalang-halangi gerak langkah Nabi Muhammad SAW dalam menyiarkan agama Islam. Ancaman-ancaman dan siksaan kerap dilancarkan oleh mereka. Tapi semua itu tidak membuat Nabi Muhammad takut. Beliau dengan tekun mengajak semua orang untuk segera menyeru nama Tuhan penguasa alam. Abu Lahab semakin murka. Dia merasa dilecehkan oleh Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu , Abu Lahab sering mencoba mencelakakan beliau. Berbagai upaya dilaksanakan agar Rasulullah celaka atau terbunuh. Namun, Allah swt selalu melindungi Rasul-Nya. Nabi Muhammad selalu selamat dari segala tipu daya yang diciptakan oleh Abu Lahab.

Abu Lahab dan orang-orang kafir Quraisy memfitnah dengan menyebarkan isu bahwa Nabi Muhammad SAW sebagai pembohong, dungu dan dianggap orang gila. Nabi Muhammad SAW dianggapa telah merusak agama nenek moyang mereka, yang menyembah kepada Latta dan Uzza sehingga Abu Lahab terus berupaya untuk menghentikan dakwah Nabi Muhammad saw. Abu Lahab menyebarkan fitnah dan tuduhan keji. Namun usahanya tidaklah menghasilkan apa-apa. Begitu pula upaya Abu Lahab membujuk kepada Abu Thalib agar supaya menasihati Nabi Muhammad SAW untuk berhenti dari dakwahnya juga sia-sia karena paman Nabi Abu Thalib justru melindunginya dai serangan kaum kafir Quraisy.

Abu Lahab berupaya mendatangkan ahli syair untuk menandingi bacaan-bacaan Al-Qur’an. Penyair ahli pada masa itu adalah ’Utbah bin Rabi’ah dan Taufil bin Amr, mereka diberi tugas untuk mencemooh nilai sastra Al-Qur’an. Tapi setelah mendengar dan membaca ayat Al-Qur’an justru keduanya masuk Islam. Semua anak-anak keturunan Abu Lahab diperintahkan juga untuk ikut membenci Nabi Muhammad SAW. Bahkan anaknya Utbah dan Utaibah yang beristrikan anak-anak Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk menceraikannya.

Surah yang menceritakan tentang kemurkaan Allah kepada Abu Lahab dan istrinya terdapat dalam surat Al-Lahab ayat 1-5. Yang artinya berbunyi sebagai berikut :

Allah Subhanahuwa Ta'ala berfirman

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ (1) مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ (2) سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ (3) وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ (4) فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ (5)
"binasalah kedua tangan Abu Lahab dan Sesungguhnya Dia akan binasa. tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. kelak Dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. yang di lehernya ada tali dari sabut."
(QS. Al-Lahab : Ayat 1-5)

1. Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.
2. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang dia usahakan.
3. Kelak siamakan masuk ke dalam apimyang bergejolak.
4. Dan begitu pula istrinya pembawa kayu bakar.
5. Yang di lehernya ada tali dari sabut.

Kematian Abu Lahab 

Isteri Abu Lahab disebut pembawa kayu Bakar karena Dia selalu menyebar-nyebarkan fitnah untuk memburuk-burukkan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasalam. dan kaum Muslim.Ternyata yang menyebabkan matinya Abu Lahab adalah sebuah pukulan yang dilakukan oleh seorang shahabiyyah yang mulia. Beliau adalah Lubabah Al-Kubra yang dikenal dengan panggilan Ummu Fadl binti Al-Harits Radhiyallahu Anha. Wanita yang juga menjadi saudara kandung Sayyidah Maimunah binti Al-Harits radhiyallahu anha. Ummu Fadl tercatat sebagai wanita kedua yang masuk Islam setelah Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid Radhiyallahu Anha.

Ummu Fadl juga adalah seorang istri dari sahabat yang mulia sekaligus paman dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yaitu Al-Abbas ibn Abdil Muththalib radhiyallahu anhu.Rasulullah sendiri sering mengunjunginya dan beristirahat siang di rumahnya. Keluarga mulia ini juga termasuk salah satu tempat bersandar Rasulullah pada masa sulit. Lain halnya dengan Ummu Jamil. Meski kata jamil terlekat dinamanya, namun perangai dan tingkah lakunya jauh dari keindahan. Sebagai isteri Abu Lahab, Ummu Jamil adalah wanita yang terkenal aktif memusuhi dan memerangi Islam. Tak jarang diantara dua keluarga yang masih sangat dekat hubungannya itu menimbulkan percekcokan.

Ummu Fadl, bersama suami dan anak-anaknya pun kemudian sepakat untuk menyembunyikan keIslaman mereka karena khawatir dengan kejahatan kaumnya. Namun Allah berkehendak lain, Al-Abbas malah tertawan ditangan kaum muslimin saat Perang Badr. Kondisi kaum muslimin yang belum mengetahui perihal keIslamannya sedikit banyak menyulitkan Rasulullah. Walhasil beliaupun menebus sang paman Al-Abbas seperti orang musyrik lainnya. Taktik ini dilakukan agar rahasia keIslaman Al Abbas tetap tidak terbongkar oleh orang-orang Quraisy.

Ummu Fadl pun melihat kemarahan orang-orang kafir termasuk iparnya, Abu Lahab. Kekalahan kaum kafir dalam Perang Badr sangat mengiris hati Abu Lahab. Ummu Fadl pun mewanti-wanti ke empat anaknya agar tidak menunjukkan raut wajah bahagia sehingga keIslaman mereka tetap tidak bocor ke telinga kaum Quraisy. Namun sebuah kejadian betul-betul merubah segalanya. Hal ini bermula ketika Ummu Fadl beserta seorang budaknya bernama Abu Rafi` turut mendengarkan perbincangan di ujung rumahnya antara iparnya, Abu Lahab dan keponakannya Abu Sufyan Ibnul Harits.

Saat itu, Abu Sufyan menceritakan kepada Abu Lahab bagaimana kaumnya kalah melawan kaum muslimin. Abu Lahab pun hanya bisa marah-marah dan melontarkan sumbah serapah atas kenyataan itu. Sebaliknya, di ujung rumah, Ummu Fadl justru sangat bersuka cita atas apa yang didengarnya.
Abu Sufyan berkata, ”Demi Allah, walau demikian aku tidak akan menyalahkan mereka karena kami menghadapi manusia-manusia putih berkuda putih diantara langit dan bumi dan tidak ada yang mampu mengalahkan mereka.”

Tentu saja Ummu Fadl merasa bahagia mendengarnya, akan tetapi Abu Rafi` tidak lagi mampu menahan rasa bahagianya hingga kemudian ia berteriak, ”Demi Allah, itu adalah para Malaikat!!”
Mendengar teriakan itu, Abu Lahab bangkit. Dengan diliputi rasa marah, ia lantas menghampiri Abu Rafi’ lalu memukulnya secara keras. Sontak saja melihat budaknya dipukul, Ummu Fadl menjadi lupa terhadap langkah untuk menyembunyikan keIslamannya. Wanita mulia ini kemudian mencabut sebuah tiang yang ada di rumahnya dan lewat jiwa pemberani langsung menghajar kepala Abu Lahab lalu berkata, ”Beraninya kamu memukul Abu Rafi`saat tidak ada majikannya”..

Apa yang terjadi ? Kepala Abu Lahab bonyok bukan kepalang. Rambutnya dibanjiri kucuran darah dari pentungan yang dilayangkan Ummu Fadl. Abu lahab pun kemudian meninggalkan rumah saudaranya, Al-Abbas. Berselang tujuh malam, luka tersebut semakin parah dan bekas pukulan itu menembus sampai otak hingga menyebabkan pembusukan.Orang-orang di sekitar pun mulai menjauhinya.

Para warga mencium bau tidak sedap yang keluar dari luka Abu Lahab. Mereka juga khawatir luka Abu Lahab dapat menular menimpa mereka. Abu Lahab pun akhirnya hidup sendiri. Ia mengerang pedih tanpa ada yang membantu. Istrinya, Ummu Jamil (hammalatul hathab) yang seharusnya berada di sampingnya, justru pergi bersama anak-anaknya menjauhi sang suami. Dan naas, tak lama kemudian Abu Lahab benar-benar tewas. Selama tiga hari, jasad Abu Lahab dibiarkan tergeletak tanpa ada yang bersedia menguburkan.

Para warga tidak berani mendekati jasadnya. Akhirnya karena bau busuk yang kian menjadi, maka digali juga sebuah lubang kubur bagi Abu Lahab. Bangkai Abu Lahab didorong-dorong dengan sebilah kayu sampai masuk lubang. Tidak hanya itu, prosesi penguburan pun berlangsung secara mengenaskan. Dari jauh warga melempari kuburan Abu Lahab dengan batu hingga mereka yakin betul jasadnya telah tertutup rapat. Ya sebuah tragedi kematian yang lebih hina dari kematian seekor ayam sekalipun.

Itulah akhir hayat Abu Lahab manusia yang sombong kepada Allah dan menolak risalah Nabi Muhammad SAW

Baca Juga Artikel Menarik Lainnya



Related : Kisah Abu Lahab Dan Istrinya Yang Ditakdirkan Masuk Jadi Penghuni Neraka

clear'/>