-->

Tips Trik Seputar Internet dan Bisnis

SYARAT-SYARAT KRITERIA YANG BERHAK MENJADI IMAM SHOLAT BERJAMAAH



Syarat-Syarat-kriteria-yang-berhak-menjadi-Imam-Sholat-Berjamaah
SYARAT-SYARAT KRITERIA YANG BERHAK MENJADI IMAM SHOLAT BERJAMAAH Syarat-Syarat-kriteria-yang-berhak-menjadi-Imam-Sholat-Berjamaah


Syarat-Syarat Kriteria Imam Sholat - Shalat Adalah Amal Sholeh yang pertama kali dihisab pada hari kiamat karena Shalat merupakan hubungan antara manusia dengan Rabb-nya.
Jika shalatnya baik , maka akan baik pula seluruh amalnya. Namun jika buruk shalatnya, maka akan buruk pula seluruh Amalanya. Barangsiapa yang baik hatinya, maka akan baik shalatnya. Dan barangsiapa yang buruk hatinya, maka akan buruk shalatnya.


Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam:

فَإِنْ صَلُحَتْ صَلُحَ سَائِرُ عَمَلِهِ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ
Bila shalatnya baik maka baik pula seluruh amalnya, sebaliknya jika shalatnya rusak maka rusak pula seluruh amalnya.”
(HR. Ath-Thabarani dalam Al-Ausath, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 1358 karena banyak jalannya)

Oleh Karena itu penting bagi kita menjaga sholat fardhu 5 waktu , jangan sampai meninggalkan shalat berjamaah karena dalam berjamaah pahala shalat menjadi berlipat dibanding sendirian, itupun bila bacaan dan rukun sholat sudah benar. Dalam berjamaah sholat selalu dipimpin oleh seorang imam sholat , Apakah kriteria atau syarat - syarat seseorang berhak menjadi imam sholat ?

Adapun tentang Syarat kriteria menjadi Imam Sholat dan Siapa yang berhak menjadi Imam Sholat Berjamaah? berikut adalah penjelasannya

Imam Sholat adalah Seorang pimpinan dalam shalat berjamaah, baik sholat wajib 5 waktu / sholat fardhu maupun sholat sunnah seperti sholat tarawih yang dilakukan secara berjamaah minimal dua orang atau lebih secara bersama-sama dengan ketentuan tertentu.

Kedudukan menjadi imam/pemimpin sholat bagi orang-orang yang bertaqwa adalah sebuah keutamaan besar. Bahkan ia adalah do’a orang-orang yang sholeh. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. [QS. Al Furqon (25) : 74]

Mana yang lebih berhak menjadi imam seorang qori’al Quran ( penghafal al quran ) atau seorang yang fakih tentang hukum-hukum (terutama sholat)?

Dari kedua hal ini jelaslah orang-orang yang tidak termasuk dalam kedua hal tersebut tidaklah layak menjadi imam. Semisal orang yang hafalannya sedikit dan bacaannya buruk maka orang yang demikian tidaklah layak menjadi imam. Apalagi jika hafalannya sedikit, bacaanya buruk dan tidak tahu bagaimana hukum-hukum (terutama sholat) maka orang yang demikian ini tidaklah layak menjadi imam.

Qori’ adalah orang yang paling bagus bacaannya, sebagian ulama’ dari mazhab Hambali mengatakan, yang dimaksud dengan qori’ adalah orang yang paling banyak hafalannya. Penulis Shohih Fiqh Sunnah mengatakan, “Aku katakan pendapat sebagian ulama’ mazhab hambali inilah yang benar sesuai dengan dhohir hadits-hadits tentang hal ini akan tetapi dengan syarat bacaan Al Qur’annya benar dan sempurna makhrojul hurufnya”.

Berkaitan dengan masalah ini para ulama’ berbeda pendapat, mereka secara umum memiliki dua pendapat pokok.

1. Seorang Qori’ yang Lebih Utama Menjadi Imam

Pendapat ini adalah pendapat yang diambil oleh al Imam Abu Hanifah dan para pengikut mazhab Beliau, al Imam Sufyan Ats Tsauriy dan Al Imam Ahmad bin Hambal rohimahumullah.

Dalil mereka adalah :

Hadits Abu Sa’id al Khudriy rodhiyallahu ‘anhu, Beliau mengatakan,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا كَانُوا ثَلاَثَةً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَحَدُهُمْ وَأَحَقُّهُمْ بِالإِمَامَةِ أَقْرَؤُهُمْ »

Rosulullah Shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan, “Jika kalian berjumlah tiga orang (dan hendak mengerjakan sholat berjamaah) makan hendaklah salah seorang dari kalian yang paling banyak hafalannya (qori’) menjadi imam”.


Hadits Abu Mas’ud Al Anshori rodhiyallahu ‘anhu, Beliau mengatakan,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ فَإِنْ كَانُوا فِى الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ فَإِنْ كَانُوا فِى السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِى الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا وَلاَ يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِى سُلْطَانِهِ وَلاَ يَقْعُدْ فِى بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

Rosulullah Shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan, “Yang menjadi imam dari suatu kaum adalah orang yang paling banyak hafalan terhadap Kitab Allah (Al Qur’an), jika diantara mereka ada yang memiliki hafalan sama maka yang menjadi imam mereka adalah orang yang paling paham tentang sunnah Nabi (hadits) jika diantara mereka masih sama maka yang paling dahulu hijroh[4] jika mereka dalam masalah hijroh sama maka yang lebih dahulu masuk islam[5]. Janganlah seorang laki-laki menjadi imam seorang lelaki yang lain yang merupakan sulthonnya dalam daerah kekuasaan sulthon tersebut dan tidak pula di rumah orang yang di datanginya sebagai bentuk pemulian baginya kecuali atas izin orang tersebut”[6].

Hadits Amr bin Salamah,


صَلُّوا صَلاَةَ كَذَا فِى حِينِ كَذَا ، وَصَلُّوا كَذَا فِى حِينِ كَذَا ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ ، فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ ، وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآنً

“Sholatlah kalian pada keadaan demikian, Sholatlah kalian pada keadaan demikian, jika telah datang waktu sholat maka hendaklah salah seorang dari kalian beradzan dan hendaklah salah seorang dari kalian yang paling banyak hafalan Al Qur’annya menjadi imam”

2. Orang yang Fakih yang Lebih Utama Menjadi Imam

Pendapat ini adalah pendapat yang diambil oleh al Imam Malik dan Syafi’i dan sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa pendapat yang diambil oleh al Imam Abu Hanifah dan Ahmad bin Hambal rohimahumullah. Mereka mengambil pendapat ini berdasarkan dalil sebagai berikut.

a. Mungkin saja orang yang menggantikan imam dalam sholat orang yang tidak tidak tahu apa yang dilakukannya untuk menggantikan imam dalam sholat kecuali orang yang fakih. Maka orang yang fakih lebih utama.

b. Para ulama ini menjawab/berargumentasi dengan hadits yang dibawakan kelompok ulama sebelumnya bahwa orang yang paling banyak hafalan Al Qur’annya di masa sahabat adalah orang yang paling fakih. Karena para sahabat tidaklah mereka membaca sepuluh ayat hingga mereka memamahi maknanya dan kandungan (salah satunya adalah fikih/hukum) yang ada pada ayat-ayat tersebut dan mengamalkannya.

Para ulama terdahulu sebelumnya membantah argumen di atas dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam, (فَإِنْ كَانُوا فِى الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ) hadits ini menunjukkan lebih utamannya orang yang banyak hafalannya menjadi imam secara mutlak.

c. Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam menunjuk Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu menjadi imam bagi para sahabat untuk menggantikan beliau padahal Abu Bakar bukanlah sahabat yang paling banyak hafalannya diantara para sahabat. Para ulama terdahulu sebelumnya membantah argumen di atas dengan mengatakan bahwa pilihan Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam pada Abu Bakar untuk menggantikan beliau mengimami para sahabat merupakan isyarat agar beliau menggantikan Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam menjadi kholifah, dan kholifah lebih utama untuk menjadi imam walaupun ada orang yang lebih banyak hafalannya.

Penulis Shahih Fiqh Sunnah mengatakan, “Pendapat yang rojih/kuat adalah pendapat yang mendahulukan orang yang banyak hafalannya menjadi imam daripada orang yang fakih, akan tetapi dengan syarat orang yang banyak hafalannya tersebut memiliki pengetahuan tentang hukum-hukum seputar sholat. Jika ia bukan orang yang demikian maka orang yang banyak hafalannya semisal keadaan di atas tidaklah diutamakan menjadi imam dengan sepakat para ulama’.

Dalam masalah pertama, yaitu syarat sah untuk menjadi imam adalah orang yang shalatnya sah. Kalau kita menilai shalat seseorang dan kita bilang shalatnya itu sah, maka kita boleh menjadi makmum di belakangnya.

Sebaliknya, kalau kita mengatakan bahwa shalat seseorang itu tidak sah, entah karena tidak lengkap syaratnya, atau rukunnya, atau karena telah terjadi sesuatu yang membatalkan shalatnya, maka kita pun tidak sah untuk menjadi makmum di belakangnya. Sedangkan dalam masalah kedua, yaitu tentang siapa yang paling utama untuk dijadikan imam shalat, anda sudah benar. Yaitu orang yang paling baik bacaan Al-Qurannya. Sebab memang demikian hadits rasulullah SAW tentang masalah ini. Orang paling baik bacaan Quran-nya adalah orang yang paling berhak maju ke depan menjadi imam, meski pun masih anak kecil, belum kawin, atau pun masih sangat junior.

Tidak ada urusan dengan penghayatan tentang shalat, sebab urusan penghayatan seperti yang anda sebutkan itu sangat nisbi, tidak terukur dan tidak jelas skalanya. Lalu syarat yang kedua adalah orang yang paling paham dengan urusan agama. Minimal masalah shalat berjamaah serta pernik-perniknya. Apa jadinya kalau seorang imam tidak menguasai fiqih shalat? Barulah bila skornya sama, pertimbangan lainnya bisa dimasukkan. Misalnya masalah usia, tingkat penghayatan atau pun masalah lainnya.

Syarat-Syarat kriteria menjadi Imam Sholat :

1) Islam, tidak sah solat yang diimamkan oleh seseorang yang kafir.

2) Berakal, tidak sah solat yang diimamkan oleh seseorang yang gila. Ini kerana, solat yang dilakukan oleh orang yang disahkan gila tersebut tidak sah. Tetapi jika gila itu bermusim maka solat ketika dia sihat sah tetapi adalah dibenci. Ini kerana dikhuatiri penyakit gilanya itu berulang ketika dia menunaikan solat.

Imam Syafie berpendapat, harus orang yang baligh menjadi makmum kepada imam yang belum Mumaiyiz. Ini berdasarkan apa yang diriwayatkan daripada Amr bin Salamah: Aku telah mengimamkan solat di zaman Rasulullah s.a.w sedang aku adalah anak yang baru berumur tujuh tahun. (Riwayat Bukhari)


4) Lelaki yang sejati sekiranya yang menjadi makmum itu adalah lelaki.

Tidak sah solat yang diimamkan oleh seorang perempuan atau khunsa bagi makmum lelaki sama ada solat fardu atau sunat. Sekiranya yang menjadi makmum itu perempuan semata-mata maka tidak disyaratkan lelaki menjadi imam bagi jemaah tersebut.

5) Bersih daripada hadas dan kekotoran.

Tidak sah menjadi imam yang berhadas atau orang yang terdapat najis pada badannya, pakaiannya sama ada dia mengetahui hal tersebut atau lupa.

6) Baik bacaannya dan mengetahui rukun-rukunnya.

Seseorang imam hendaklah baik bacaannya kerana solat tidak sah melainkan dengan bacaan dan mengetahui rukun-rukun solat. Tidak sah seseorang qari menjadi makmum kepada seseorang yang buta huruf (jumhur) dan wajib bagi qari mengulangi solatnya. Seperti mana keadaannya tidak menjadi makmum kepada seseorang yang tidak mampu rukuk, sujud atau tidak boleh duduk ataupun tidak mampu mengadap kiblat.

7) Keadaan yang bukan makmum.

Tidak sah solat makmum mengikut makmum lain sebagai imam. Mengikut seseorang yang sudah terputus dengan imamnya disebabkan masbuk:

i- Al-Hanafiah: tidak harus menjadi seseorang masbuq itu sebagai ikutan kerana dia telah mengikut (makmum). Oleh yang demikian, yang diikut tidak boleh diikuti.

ii- Al-Malikiah: tidak harus menjadikan seseorang yang masbuk itu sebagai ikutan kerana dia tadi mengikut (makmum). Namun adapun yang mudrik (tidak sempat rakaat bersama imam boleh diikuti apabila dia bangkit untuk menunaikan solatnya dan hendaklah mudrik yang tidak sempat rakaat tadi berniat menjadi imam. Kerana ketika itu dia sedang solat berseorangan dan tidak thabit hukum makmum.

iii- Al-Syafieyyah: terputus ikutan / menurut imam dengan semata-mata keluarnya imam dari solat sama ada dengan memberi salam atau dengan sebab terbatalnya wuduk. Ini kerana terkeluarnya dari ikatan di antara imam dan makmum maka pada ketika itu dia boleh mengikuti orang lain yang ganti imam atau orang lain yang mengikutnya sebagai imam.

Kesimpulannya : al-Hanafiah dan Malikiah tidak mengharuskan mengikut seseorang yang asalnya mengikut selepas imam memberi salam, dan harus pada Al-Syafieyyah dan al-Hanabilah. Ini adalah lebih utama.

8) Syarat khas pada al-Hanafiah dan al-Hanabilah: sejahtera daripada keuzuran.

Tidak lawas ketika buang air, kerap terkentut dan batuk makruh ke atas orang yang mempunyai penyakit-penyakit ini menjadi imam. Sekiranya seseorang yang mempunyai satu keuzuran adalah lebih utama menjadi imam daripada orang yang mempunyai dua keuzuran.

Adapun pendapat al-Malikiah tidak mensyaratkan syarat ini tetapi dihukum makruh menjadi imam selagi mana tidak terbatal wuduknya.

Begitu juga pendapat bagi Al-Syafieyyah tidak mensyaratkan syarat ini dan sah menjadi imam orang yang mempunyai keuzuran ini dan tidak perlu mengulangi solat tersebut.

9) Imam mesti seorang yang fasih al-lisan.

Mampu menyebut huruf-huruf di dalam al-Quran dari makhrajnya.

10) Al-Hanafiah dan Al-Syafieyyah mensyaratkan supaya solat itu diimamkan oleh orang yang bermazhab yang sama dengan makmum.

Sekiranya seseorang yang bermazhab Hanafi solat di belakang seorang imam bermazhab Syafie yang mengalir darah pada tubuhnya dan tidak berwuduk selepas itu atau solat seorang yang bermazhab Syafie di belakang seseorang bermazhab Hanafi yang menyentuh perempuan dan tidak berwuduk, maka solat makmum itu batal kerana setiap mazhab melihat kepada batalnya solat imam itu tadi.

Al-Hanafiah berpendapat solat di belakang imam yang bermazhab Syafie adalah makruh

Demikian Syarat-Syarat kriteria yang berhak menjadi Imam Sholat Berjamaah , Semoga bermanfaat jangan lupa berkomentar dan berkunjung kembali ke website www.tipstriksib.net

Baca Juga Artikel Menarik Lainnya

























Related : SYARAT-SYARAT KRITERIA YANG BERHAK MENJADI IMAM SHOLAT BERJAMAAH

clear'/>